Syubhat Seputar Tasyabbuh (Menyerupai
Suatu Kaum)
_____
Oleh : Syahrial Paputungan
Cr. By : Dwi Fazriani
Tulisan singkat ini hanya meluruskan
beberapa pers pektif yang ambigu tentang tasyabbuh/menyerupai suatu kaum, yang
kami anggap penting untuk di luruskan terkait gambar yang sempat viral di
medsos. Berikut tanggapan kami:
1.)
Dalam
gambar itu, penulis berkata: “mungkin
yang membuat fatwa meniup terompet adalah budaya yahudi, lupa kalo malaikat
israfil juga meniup terompet”. Sehingga secara tidak langsung penulis
menyimpulkan bahwa meniup terompet adalah perbuatan malaikat, maka boleh-boleh
saja untuk kita tiru.
Tanggapan:
a) Yang mengatakan terompet adalah budaya
yahudi bukanlah sekedar fatwa, namun lahir dari dalil hadis Rosulullah:
“ketika kaum muslimin tiba di Madinah, mereka
berkumpul dan menunggu waktu shalat, namun tak seorangpun yang menyeru.
Sebagian mereka berkata: ‘gunakanlah terompet, rosulullah bersabda membunyikan
terompet adalah perilaku kaum yahudi’. Yang lain berkata: ‘gunakanlah lonceng,
rosulullah bersabda itu perilaku kaum nashrani’. (HR. Abu Daud dishahihkan
oleh Syaikh Al-Albani)
Dalam
riwayat lain: Rosulullah bersabda: “Wahai
bilal kumandangkanlah adzan untuk shalat”.
b) Seandainya kita ikuti logika berfikir
si penulis, maka akan lahir pemahaman bahwa perbuatan malaikat sah sah saja
ditiru. Pertanyaannya apa boleh seseorang membunuh manusia lain dengan dalih
mengikuti malaikat maut dalam mencabut nyawa? Atau bolehkah seseorang menyiksa
penghuni kubur dengan dalih mengikuti malaikat munkar & nakir? Atau bolehkah
manusia sujud kepada manusia lain dengan dalih malaikat pun sujud kepada Adam?
Jelas tidak boleh, karena setiap makhluk, Allah berikan tugas penghambaan
sesuai apa yang Allah syariatkan dan perintahkan kepada mereka, dan secara umum
manusia mengamalkan suatu amalan yang disyariakan untuknya. Maka dalam hal ini
kita sebagai muslim diperintahkan untuk tidak bertasyabbuh/menyerupai suatu
kaum, dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka. Dan terompet adalah
kekhususan bahkan sarana penghambaan Yahudi, yang kita diperintahkan untuk
berbeda dengan mereka. Dan seseorang yang menggunakan lonceng disekolah
misalnya, tidaklah dikatakan kafir sebagaimana anggapan sipenulis. Karena
maksud hadis “barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian darinya”,
yakni ia mendapat bagian dosa, sebagaimana penjelasan Syaikh Dr.Umar Al-Muqbil
dalam bukunya Qowaid Nabawiyyah. Maka gantilah lonceng, dengan bel listrik agar
kita selamat dari ancaman hadis-hadis tentang lonceng.
2.) Kemudian sipenulis berkata bahwa hadits
tentang larangan tasyabbuh/menyerupai suatu kaum jangan ditelan mentah-mentah,
karena maksud menyerupai bukan dalam tampilan.
Tanggapan:
Lantas larangan
menyerupai dalam hal apa? Bagaimana dengan hadis Nabi: “berbedalah dengan orang-orang musyrik. Pendekanlah kumis dan
biarkanlah jenggot”. (HR. Muslim). “pendekkanlah
kumis, dan biarkanlah(peliharalah) jenggot dan berbedalah dengan majusi”.(HR.
Muslim). Mau tau kumis nya majusi? Silahkan googleing, maka dari itu nabi
menyuruh untuk berbeda dengan mereka dari segi dzohir (penampilan).
Bahkan dalam kasus
tertentu, ketika suatu kalimat menjadi ciri khas Non-muslim, maka seorang
muslim di larang untuk mengucapkannya. Sebagaimana yang Allah terangkan:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi
Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan bagi
orang-orang yang kafir siksaan yang pedih”.(QS.Al-baqarah).
Ayat diatas adalah larangan agar para
sahabat tidak meniru ucapan orang-orang Yahudi. Pada saat itu, ketika para
sahabat memiliki masalah dan akan
mengadukannya kepada Rosulullah, mereka berkata raa’ina (perhatikanlah kami).
Kemudian orang-orang yahudi menggunakan istilah tersebut untuk mengejek
Rosulullah dengan maksud lain, yaitu ra’ina
dari kata ruuna yang berarti bodoh.
Maka Allah melarang para sahabat meniru ucapan Yahudi meskipun arti yang
dikehendaki berbeda, dan Allah memerintahkan agar sahabat mengganti dengan kata
unzurna yang artinya juga
(perhatikanlah kami)”. Bahkan sebagian Ulama memasukan ideologi, adat, budaya,
perayaan yang merupakan kekhususan
mereka pun di larang. Maka dari mana sipenulis menyimpulkan larangan
tasyabbuh bukan dari segi penampilan? Dari google?
3.) “Beragama
itu tidak sekedar tampilan luarnya saja”
kata sipenulis.
Tanggapan:
a.) Memang benar bahwa penampilan bukan
satu-satunya barometer dalam beragama, namun antara dzhohir penampilan dan
bathin (hati) memiliki keterkaitan yang kuat. Menurut anda mengapa seseorang
berpenampilan dengan model rambut salah satu pemain sepak bola? C.Ronaldo
misalnya. Atau mengapa seorang anak kecil meniru pakaian seorang polisi,
tentara dsb? Karena didalam hatinya ada kecenderngan terhadap sesuatu yang ia
tiru.
Maka
seorang muslim yang berpenampilan layaknya muslim, Seorang muslimah yang mengenakan
hijab syar’i dan seterusnya, mencerminkan kecintaanya terhadap syariat islam.
Untuk itulah Rosulullah bersabda:
“sesungguhnya
didalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik pula anggota
badan, dan jika ia buruk maka buruk pula anggota badan. Ketahuilah bahwa ia
adalah hati.” (HR.Bukhari-Muslim).
b.) Dalam kehidupan sehari-hari pun
penampilan sangat menentukan identitas seseorang. Seorang polisi akan dikenali
lewat seragamnya, tentara, perawat,dokter, dan lainnya semua akan kita kenali lewat
penampilan mereka. Lantas bagaimana seseorang mengenali anda sebagai muslim,
jika penampilan anda tidak mencerminkan sebagai seorang muslim bahkan mirip
dengan non-muslim? Padahal Rosulullah memerintahkan untuk memberi salam kepada
setiap muslim yang berpapasan dengan kita. Lantas dari mana ia mengenali anda
sebagai muslim jika bukan dari penampilan?
4.) Beliau menutup dengan mengutip satu
hadis yang berbunyi: “Tiada agama bagi
yang tak berakal”.
Tanggapan: entah dari mana ia mendapatkan hadis
ini, mungkin dari google. Maka cukuplah peringatan Rosulullah:
“barangsiapa
berdusta atas namaku maka silahkan ia persiapkan tempat duduknya di neraka”.(HR.Bukhari-Muslim)
_______
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..