Senin, 01 Januari 2018

Syubhat Seputar Tasyabbuh (Menyerupai Suatu Kaum)



Syubhat Seputar Tasyabbuh (Menyerupai Suatu Kaum)
_____
Oleh    : Syahrial Paputungan
Cr. By  : Dwi Fazriani

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh... 


 
Tulisan singkat ini hanya meluruskan beberapa pers pektif yang ambigu tentang tasyabbuh/menyerupai suatu kaum, yang kami anggap penting untuk di luruskan terkait gambar yang sempat viral di medsos. Berikut tanggapan kami:
1.)   Dalam gambar itu, penulis berkata: “mungkin yang membuat fatwa meniup terompet adalah budaya yahudi, lupa kalo malaikat israfil juga meniup terompet”. Sehingga secara tidak langsung penulis menyimpulkan bahwa meniup terompet adalah perbuatan malaikat, maka boleh-boleh saja untuk kita tiru.

Tanggapan:
a)  Yang mengatakan terompet adalah budaya yahudi bukanlah sekedar fatwa, namun lahir dari dalil hadis Rosulullah:
    “ketika kaum muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul dan menunggu waktu shalat, namun tak seorangpun yang menyeru. Sebagian mereka berkata: ‘gunakanlah terompet, rosulullah bersabda membunyikan terompet adalah perilaku kaum yahudi’. Yang lain berkata: ‘gunakanlah lonceng, rosulullah bersabda itu perilaku kaum nashrani’. (HR. Abu Daud dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Dalam riwayat lain: Rosulullah bersabda: “Wahai bilal kumandangkanlah adzan untuk shalat”.

b)  Seandainya kita ikuti logika berfikir si penulis, maka akan lahir pemahaman bahwa perbuatan malaikat sah sah saja ditiru. Pertanyaannya apa boleh seseorang membunuh manusia lain dengan dalih mengikuti malaikat maut dalam mencabut nyawa? Atau bolehkah seseorang menyiksa penghuni kubur dengan dalih mengikuti malaikat munkar & nakir? Atau bolehkah manusia sujud kepada manusia lain dengan dalih malaikat pun sujud kepada Adam? Jelas tidak boleh, karena setiap makhluk, Allah berikan tugas penghambaan sesuai apa yang Allah syariatkan dan perintahkan kepada mereka, dan secara umum manusia mengamalkan suatu amalan yang disyariakan untuknya. Maka dalam hal ini kita sebagai muslim diperintahkan untuk tidak bertasyabbuh/menyerupai suatu kaum, dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka. Dan terompet adalah kekhususan bahkan sarana penghambaan Yahudi, yang kita diperintahkan untuk berbeda dengan mereka. Dan seseorang yang menggunakan lonceng disekolah misalnya, tidaklah dikatakan kafir sebagaimana anggapan sipenulis. Karena maksud hadis “barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian darinya”, yakni ia mendapat bagian dosa, sebagaimana penjelasan Syaikh Dr.Umar Al-Muqbil dalam bukunya Qowaid Nabawiyyah. Maka gantilah lonceng, dengan bel listrik agar kita selamat dari ancaman hadis-hadis tentang lonceng.

2.)  Kemudian sipenulis berkata bahwa hadits tentang larangan tasyabbuh/menyerupai suatu kaum jangan ditelan mentah-mentah, karena maksud menyerupai bukan dalam tampilan.

Tanggapan:
Lantas larangan menyerupai dalam hal apa? Bagaimana dengan hadis Nabi: “berbedalah dengan orang-orang musyrik. Pendekanlah kumis dan biarkanlah jenggot”. (HR. Muslim). “pendekkanlah kumis, dan biarkanlah(peliharalah) jenggot dan berbedalah dengan majusi”.(HR. Muslim). Mau tau kumis nya majusi? Silahkan googleing, maka dari itu nabi menyuruh untuk berbeda dengan mereka dari segi dzohir (penampilan).
Bahkan dalam kasus tertentu, ketika suatu kalimat menjadi ciri khas Non-muslim, maka seorang muslim di larang untuk mengucapkannya. Sebagaimana yang Allah terangkan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih”.(QS.Al-baqarah).

Ayat diatas adalah larangan agar para sahabat tidak meniru ucapan orang-orang Yahudi. Pada saat itu, ketika para sahabat  memiliki masalah dan akan mengadukannya kepada Rosulullah, mereka berkata raa’ina (perhatikanlah kami).  Kemudian orang-orang yahudi menggunakan istilah tersebut untuk mengejek Rosulullah dengan maksud lain, yaitu ra’ina dari kata ruuna yang berarti bodoh. Maka Allah melarang para sahabat meniru ucapan Yahudi meskipun arti yang dikehendaki berbeda, dan Allah memerintahkan agar sahabat mengganti dengan kata unzurna yang artinya juga (perhatikanlah kami)”. Bahkan sebagian Ulama memasukan ideologi, adat, budaya, perayaan yang merupakan kekhususan  mereka pun di larang. Maka dari mana sipenulis menyimpulkan larangan tasyabbuh bukan dari segi penampilan? Dari google?

3.)  “Beragama itu tidak sekedar tampilan luarnya saja” kata sipenulis.

Tanggapan:
a.)  Memang benar bahwa penampilan bukan satu-satunya barometer dalam beragama, namun antara dzhohir penampilan dan bathin (hati) memiliki keterkaitan yang kuat. Menurut anda mengapa seseorang berpenampilan dengan model rambut salah satu pemain sepak bola? C.Ronaldo misalnya. Atau mengapa seorang anak kecil meniru pakaian seorang polisi, tentara dsb? Karena didalam hatinya ada kecenderngan terhadap sesuatu yang ia tiru.

Maka seorang muslim yang berpenampilan layaknya muslim, Seorang muslimah yang mengenakan hijab syar’i dan seterusnya, mencerminkan kecintaanya terhadap syariat islam. Untuk itulah Rosulullah bersabda:
“sesungguhnya didalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik pula anggota badan, dan jika ia buruk maka buruk pula anggota badan. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR.Bukhari-Muslim).

b.)  Dalam kehidupan sehari-hari pun penampilan sangat menentukan identitas seseorang. Seorang polisi akan dikenali lewat seragamnya, tentara, perawat,dokter, dan lainnya semua akan kita kenali lewat penampilan mereka. Lantas bagaimana seseorang mengenali anda sebagai muslim, jika penampilan anda tidak mencerminkan sebagai seorang muslim bahkan mirip dengan non-muslim? Padahal Rosulullah memerintahkan untuk memberi salam kepada setiap muslim yang berpapasan dengan kita. Lantas dari mana ia mengenali anda sebagai muslim jika bukan dari penampilan?

4.)  Beliau menutup dengan mengutip satu hadis yang berbunyi: “Tiada agama bagi yang tak berakal”.

Tanggapan: entah dari mana ia mendapatkan hadis ini, mungkin dari google. Maka cukuplah peringatan Rosulullah:
“barangsiapa berdusta atas namaku maka silahkan ia persiapkan tempat duduknya di neraka”.(HR.Bukhari-Muslim)
_______

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar